YOGYAKARTA – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta terus meningkatkan kualitas pelayanan publik agar lebih ramah dan inklusif. Sebanyak 40 pegawai mengikuti pelatihan bahasa isyarat di Griya Abhipraya Purbonegoro, Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).
Kepala Bapas Kelas I Yogyakarta, Galih Rakasiwi, mengatakan pelatihan tersebut digelar untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas Tuli.
“Pelayanan publik harus dapat diakses oleh semua masyarakat. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa isyarat menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki pegawai,” kata Galih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelatihan menghadirkan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Guru Tuli, Oricho Delaokta, menjadi pemateri utama, didampingi Akris Annisaul F. dan Muhammad Rifky K. sebagai fasilitator.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya belajar bahasa isyarat, tetapi juga mendapat pemahaman mengenai budaya Teman Tuli dan Teman Dengar. Peserta diperkenalkan dengan perbedaan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia).
Untuk mendukung pelayanan sehari-hari, pegawai berlatih abjad jari A-Z serta sejumlah kosakata dasar. Materi yang diberikan antara lain perkenalan, kata tanya, kata ganti dan berbagai ungkapan yang umum digunakan dalam komunikasi.
Materi kemudian disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan di lingkungan Bapas. Peserta mempelajari bahasa isyarat untuk sejumlah wilayah di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunungkidul dan Kulon Progo.
Para pegawai juga mempraktikkan berbagai ungkapan yang dibutuhkan saat melayani masyarakat. Mulai dari mengucapkan selamat datang, mempersilakan duduk, menanyakan keperluan, hingga memberikan informasi mengenai antrean dan kondisi ruang pelayanan.
Menurut Galih, kehadiran guru Tuli memberikan pengalaman langsung kepada pegawai dalam mempelajari bahasa isyarat dari penutur yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Peserta bisa memahami sekaligus mempraktikkan gerakan secara lebih tepat. Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat diterapkan dalam pelayanan sehari-hari,” ujarnya.
Galih berharap kemampuan tersebut dapat membantu menghilangkan hambatan komunikasi antara petugas dan masyarakat yang membutuhkan layanan Bapas.
“Kami berharap tidak ada masyarakat yang terkendala dalam berkomunikasi ketika membutuhkan layanan Bapas,” katanya.
Kegiatan berlangsung interaktif. Pada akhir pelatihan, peserta mengikuti simulasi pelayanan publik menggunakan bahasa isyarat secara mandiri. Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti materi maupun praktik yang diberikan.
Penulis : Fajarista
Editor : Arie















