KULON PROGO – Pemanfaatan pangan lokal dan lahan terbatas menjadi salah satu upaya Pemerintah Daerah DIY dalam memperkuat kemandirian pangan masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP), Kemiri, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, Jumat-Sabtu (2-3/10).
Kegiatan yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY tersebut mengusung tema “Lumbung Mataraman Mendukung Swasembada Pangan melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan berbagai potensi pangan lokal di masyarakat.
Menurutnya, pengembangan pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan luas. Pemanfaatan lahan terbatas juga dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.
“Lumbung Mataraman kita dorong agar masyarakat mampu memanfaatkan potensi yang ada di lingkungannya. Lahan terbatas bukan menjadi hambatan untuk menghasilkan pangan,” ujar Aris.
Program Lumbung Mataraman sendiri telah dikembangkan di DIY sejak 2017 melalui dukungan Dana Keistimewaan.
Pengembangannya dilakukan mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, pengolahan hasil pertanian, peningkatan nilai tambah produk hingga membuka peluang pemasaran.
Aris menjelaskan, pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian. Di antaranya keterbatasan lahan, regenerasi petani, perubahan iklim, perkembangan teknologi, pemasaran serta kebutuhan diversifikasi pangan.
Karena itu, dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 ditampilkan berbagai inovasi pemanfaatan lahan terbatas. Masyarakat dapat melihat penerapan hidroponik, vertikultur, akuaponik, budidaya terpadu, pengelolaan limbah organik hingga teknologi efisiensi penggunaan air.
“Yang kita tampilkan bukan hanya produknya, tetapi juga proses dan inovasinya. Harapannya masyarakat bisa melihat, belajar, kemudian menerapkan sesuai dengan kondisi lingkungannya,” katanya.
40 Stan Tampilkan Berbagai Inovasi
Pameran dalam kegiatan tersebut menghadirkan sekitar 40 stan. Pesertanya terdiri atas 10 kalurahan pengelola Lumbung Mataraman, 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) peserta Lomba Inovasi Pemanfaatan Lahan Terbatas, petani milenial, pelaku usaha pertanian dan peternakan, perusahaan perbenihan, penyedia alat dan mesin pertanian, komunitas hidroponik, SMK pertanian, lembaga penelitian serta akademisi.
Sepuluh kalurahan juga menampilkan potensi dan produk Lumbung Mataraman dari wilayah masing-masing. Mereka berasal dari Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Kulon Progo.
Kalurahan tersebut yakni Wukirsari dan Sriharjo dari Bantul; Glagaharjo dan Widodomartani dari Sleman; Genjahan, Piyaman, Bendung dan Balong dari Gunungkidul; serta Purwosari dan Giripeni dari Kulon Progo.
Selain itu, 15 KWT turut menampilkan inovasi pemanfaatan pekarangan dan lahan terbatas. Konsep tersebut diarahkan agar lahan di sekitar rumah tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.
Aris menilai keterlibatan KWT, petani milenial, komunitas dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam pengembangan pangan lokal.
“Ini membutuhkan kolaborasi. Tidak bisa hanya pemerintah. Ada kelompok tani, KWT, anak-anak muda, pelaku usaha, akademisi dan komunitas yang semuanya memiliki peran,” jelasnya.
Dikemas dengan Edukasi dan Pameran
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman berlangsung selama dua hari. Pada Jumat (2/10), kegiatan diawali Gerakan Pangan Murah, kemudian pembukaan, peninjauan stan dan demplot, serta penyerahan simbolis bantuan sarana produksi pertanian dan penghargaan kepada kelompok tani atau lembaga.
Kegiatan hari pertama juga diisi Lomba Olahan Pangan Lokal tingkat SMK, pameran dan talkshow mengenai Lumbung Mataraman serta pangan lokal sehat dan berkualitas.
Sementara pada Sabtu (3/10), kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama, Gerakan Pangan Murah dan talkshow inovasi pemanfaatan lahan terbatas. Ada pula Lomba Menggambar tingkat SD, Kelompencapir, hiburan seni dan live music.
Kelompencapir dikemas secara interaktif untuk menguji sekaligus menambah pengetahuan masyarakat mengenai pertanian, pemanfaatan pekarangan dan ketahanan pangan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang Lomba Menggambar dan Lomba Stan, dilanjutkan Closing Ceremony dan laporan panitia.
Aris berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pameran, tetapi dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan pangan lokal secara berkelanjutan.
“Kita ingin pangan lokal tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diolah sehingga memiliki nilai tambah dan peluang pasar. Dengan begitu, masyarakat bisa semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan,” tandasnya.
Melalui Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, Pemda DIY mendorong pemanfaatan potensi lokal, inovasi pertanian dan kolaborasi masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan serta kemandirian pangan di DIY.
Penulis : Fajarista
Editor : Arie















