SOLO – Derasnya arus informasi di ruang digital dinilai menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, pemuda dituntut tidak hanya aktif di ruang publik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan kecakapan memilah informasi.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum Inklusi Pemuda sekaligus Wakil Sekretaris Bidang (Wasekbid) PB HMI, Raenald Arzan Sitompul, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Sekolah Pemimpin 2026 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UNISRI tersebut diikuti ratusan peserta dan menghadirkan Raenald bersama narasumber lainnya, Azalea Putri Utami.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum itu, Raenald menekankan pentingnya kebangkitan intelektual di kalangan pemuda sebagai jawaban atas rendahnya kualitas diskursus publik serta derasnya penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Menurut Raenald, pemuda perlu membangun keberanian untuk berpikir kritis, memperluas pengetahuan, dan memiliki kesadaran dalam menentukan isu yang benar-benar penting bagi kepentingan masyarakat.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak pada perdebatan dangkal yang hanya mengikuti tren media sosial tanpa memahami substansi persoalan.
“Kesadaran intelektual menjadi fondasi utama bagi seorang pemimpin. Pemuda harus mampu memilah informasi, memahami persoalan secara utuh, dan menentukan isu mana yang layak diperjuangkan untuk kepentingan masyarakat luas,” ujar Raenald.
Ia menilai tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini bukan lagi soal terbatasnya akses terhadap informasi, melainkan kemampuan menyaring dan mengolah informasi secara kritis.
Dalam situasi banjir informasi yang terjadi setiap hari, pola pikir yang jernih dan berlandaskan fakta menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, Raenald mengajak mahasiswa dan pelajar menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya gerakan. Menurutnya, kebiasaan membaca, menganalisis, dan mengkritisi informasi merupakan modal penting untuk melahirkan kepemimpinan yang berkualitas dan berdaya saing.
Dalam paparannya, ia juga menyoroti peran strategis generasi muda di ruang digital. Menurutnya, kehadiran pemuda tidak cukup hanya melalui organisasi, forum diskusi, atau aktivitas sosial di dunia nyata, tetapi juga harus mengambil peran dalam ruang digital yang kini menjadi arena utama pembentukan opini publik.
“Tugas kaum pelajar hari ini bukan hanya tampil di ruang publik secara fisik, tetapi juga harus hadir di ruang digital. Kita harus mengisi ruang tersebut dengan gagasan, edukasi, dan narasi yang mencerahkan, bukan membiarkannya dipenuhi hoaks dan informasi yang menyesatkan,” tegasnya.
Raenald menilai ruang digital telah berkembang menjadi medan baru pertarungan gagasan. Oleh sebab itu, pemuda tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi, melainkan harus mampu menjadi produsen pengetahuan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Melalui Seminar Nasional Sekolah Pemimpin 2026 tersebut, Raenald berharap lahir generasi pemimpin muda yang tidak hanya unggul dalam kemampuan organisasi dan komunikasi, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual yang kuat, berintegritas, serta mampu menjawab tantangan zaman secara kritis dan bertanggung jawab.
Bagi Raenald, kebangkitan intelektual pemuda merupakan syarat penting bagi kemajuan bangsa. Di tengah perubahan sosial, politik, dan teknologi yang bergerak cepat, generasi muda diharapkan mampu menjaga nalar publik, memperkuat budaya literasi, serta menghadirkan gagasan-gagasan konstruktif demi masa depan Indonesia.
Penulis : Fajarista
Editor : Arie















