YOGYAKARTA – Rangkaian peringatan Dies Natalis ke-36 STIKES Notokusumo Yogyakarta dimeriahkan dengan kegiatan temu alumni bertajuk “Kelana Keluarga Alumni Notokusumo Yogyakarta”, yang digelar pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi alumni, mulai dari masa Akademi Keperawatan (Akper) hingga berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi dengan program S1 Keperawatan dan S1 Farmasi.
Suasana keakraban dan nostalgia terasa kental saat para alumni dari berbagai angkatan berkumpul kembali di kampus kebanggaan mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dies Natalis ke-36 STIKES Notokusumo Yogyakarta mengusung tema “Luwih Sae Lan Luwih Migunani”, yang mencerminkan harapan agar kampus terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Salah satu alumni senior, H. Bunari, S.Kep., Ns., M.H., CHQP, mengenang perjalanan panjang STIKES Notokusumo sejak awal berdiri.
Ia menuturkan, pada masa-masa awal, kampus masih menumpang di beberapa lokasi, mulai dari kawasan Pakualaman, Kepatihan, hingga Jalan Masjid PA No. 5, sebelum akhirnya memiliki kampus sendiri di Jalan Bener.
“Saya angkatan enam, masuk tahun 1995. Waktu itu masih D3 Keperawatan dan bergabung dengan Akademi Administrasi Negara di bawah Yayasan Notokusumo. Fasilitas masih sangat terbatas, belum ada HP atau laptop, semuanya serba manual. Alhamdulillah sekarang STIKES Notokusumo sudah memiliki gedung sendiri empat lantai dan berkembang pesat,” ujarnya.
Bunari yang kini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Islam di Pati sekaligus anggota Dewan Pengawas RSUD Soewondo Pati itu mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar Notokusumo.
Menurutnya, lulusan STIKES Notokusumo memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
“Saat ini sudah ada kerja sama dengan Jepang. Lulusan S1 Keperawatan bisa bekerja di rumah sakit dan klinik di sana. Ini membuktikan bahwa STIKES Notokusumo mampu bersaing dan mengikuti kebutuhan zaman,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa alumni STIKES Notokusumo telah tersebar di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dengan beragam posisi strategis di bidang kesehatan.
“Rata-rata teman seangkatan saya sudah memiliki jabatan, minimal sebagai kepala ruang. Ini menunjukkan bahwa proses pendidikan dan pengabdian di dunia kesehatan membutuhkan perjalanan panjang dan tidak instan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua STIKES Notokusumo Yogyakarta, Taukhit, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan kegiatan temu alumni merupakan bagian penting dari rangkaian Dies Natalis ke-36. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sinergi antara alumni dan sivitas akademika.
“Kami berharap temu alumni ini dapat mempererat hubungan lintas angkatan serta memperkuat kolaborasi antara kampus dan alumni untuk bersama-sama memajukan STIKES Notokusumo,” ujarnya.
Taukhit mengungkapkan, sedikitnya sekitar 100 alumni dari berbagai angkatan dan daerah telah mengonfirmasi kehadiran. Ia menegaskan, peran alumni sangat strategis dalam pengembangan kampus, baik melalui masukan, evaluasi, maupun kontribusi nyata di dunia kerja.
“Kemajuan STIKES Notokusumo saat ini tidak terlepas dari peran alumni. Kiprah alumni di masyarakat dan dunia kerja turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap kampus,” pungkasnya.
Penulis : Fajarista















