YOGYAKARTA – STIKES Notokusumo Yogyakarta menandai perjalanan 36 tahun kiprahnya melalui puncak peringatan Dies Natalis yang digelar Selasa, 3 Februari 2026.
Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai refleksi capaian sekaligus penegasan arah pengembangan institusi menuju kampus kesehatan yang unggul dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Ketua STIKES Notokusumo Yogyakarta, Taukhit, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa peringatan Dies Natalis bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk rasa syukur atas keberlanjutan institusi yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Puncak Dies Natalis ke-36 ini menjadi momen refleksi sekaligus penguatan komitmen kami. Rangkaian kegiatan sebelumnya telah kami isi dengan berbagai aktivitas yang melibatkan sivitas akademika dan masyarakat,” ujar Taukhit.
Beragam kegiatan digelar dalam rangka Dies Natalis, mulai dari pengabdian kepada masyarakat berupa santunan anak yatim dan penyandang disabilitas, lomba olahraga dan kreativitas, hingga temu alumni lintas angkatan.
“Semua kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur sekaligus upaya mempererat kebersamaan keluarga besar STIKES Notokusumo Yogyakarta,” jelasnya.
Tahun ini, STIKES Notokusumo Yogyakarta mengangkat tema ‘Luwih Sae Lan Luwih Migunani’, yang mencerminkan tekad untuk terus meningkatkan kualitas sekaligus memperluas kemanfaatan bagi masyarakat.
“Makna tema ini adalah menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Kami berkomitmen meningkatkan mutu akademik, kualitas tridarma perguruan tinggi, serta memastikan kehadiran institusi ini memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Taukhit.
Saat ini, STIKES Notokusumo Yogyakarta mengelola tiga program studi, yaitu S1 Farmasi, S1 Keperawatan dan Profesi Ners, serta D3 Keperawatan. Peningkatan kualitas lulusan dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia, khususnya dosen.
“Kami terus mendorong dosen untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral serta mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan kompetensi,” katanya.
Dari sisi fasilitas, kampus juga melakukan pengembangan sarana pendukung pembelajaran. Salah satunya dengan meresmikan gedung laboratorium terpadu untuk menunjang praktik mahasiswa.
“Laboratorium terpadu ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan tuntutan profesi,” ujarnya.
Hingga usia ke-36 tahun, STIKES Notokusumo Yogyakarta telah meluluskan sekitar 4.000 alumni yang kini tersebar di berbagai fasilitas kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.
“Selain bekerja di rumah sakit dan layanan kesehatan nasional, alumni kami juga banyak yang berkiprah di Jepang dan mulai masuk ke negara-negara Eropa seperti Jerman,” jelas Taukhit.
Ia menambahkan, transformasi institusi dari Akademi Keperawatan menjadi sekolah tinggi sejak 2019, serta peningkatan akreditasi institusi menjadi Baik Sekali, menjadi modal penting untuk pengembangan ke depan.
“Dengan capaian akreditasi tersebut, kami siap mengajukan pembukaan Program Studi Profesi Apoteker. Mudah-mudahan prosesnya berjalan lancar,” ujarnya.
Taukhit menegaskan bahwa tantangan pendidikan tenaga kesehatan ke depan menuntut lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan etika dan profesionalisme.
“Kami ingin lulusan STIKES Notokusumo Yogyakarta tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berkarakter dan profesional,” pungkasnya.***
Penulis : Fajarista















