YOGYAKARTA – Gerakan Remaja Lintas Agama dan Lintas Masyarakat (REALITALIMA) terus memperluas jejaring dengan merangkul generasi muda dari berbagai latar belakang.
Langkah tersebut dilakukan dengan menggandeng tiga tokoh pemuda Yogyakarta untuk bersama-sama membangun ruang persaudaraan, keharmonisan, dan kebersamaan lintas agama, suku, komunitas, serta elemen masyarakat.
Pertemuan berlangsung di kawasan Gedongtengen, Yogyakarta, Kamis (8/10/2026). Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat jejaring sekaligus menyatukan komitmen dalam membangun gerakan pemuda yang inklusif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga tokoh pemuda yang memberikan dukungan yakni Ndoro Klenteng, Ketua Lintas Komunitas Peduli Wisata Yogyakarta yang menaungi sedikitnya 61 komunitas; Silvester Alvon, Ketua Paguyuban Pasuduluran Malioboro; serta Rio Erwin Setiyawan dari Tim Pengembangan PAY Muhammadiyah.
Ketiganya menyatakan dukungan terhadap REALITALIMA sebagai wadah yang dapat mempertemukan pemuda dari berbagai golongan dan latar belakang.
Dukungan tersebut juga diwujudkan dengan kesiapan untuk membantu dan mengawal berbagai kegiatan REALITALIMA, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Penggagas REALITALIMA, AKP Yuliyanto, mengatakan Yogyakarta memiliki kekuatan besar sebagai kota budaya. Menurutnya, budaya dapat menjadi ruang untuk melebur berbagai perbedaan dan mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.
“Jogja merupakan kota budaya. Budaya dapat menjadi ruang yang mampu melebur berbagai perbedaan. Dari sinilah kita ingin membangun persaudaraan dan kebersamaan di kalangan pemuda,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah gagasan juga dibahas, khususnya mengenai upaya menyatukan pemuda Yogyakarta agar turut berperan dalam menciptakan keharmonisan dan menjaga persatuan di tengah keberagaman.
REALITALIMA diharapkan menjadi wadah bagi pemuda lintas agama dan lintas masyarakat untuk terlibat dalam berbagai kegiatan positif, mulai dari bidang sosial, budaya, kemasyarakatan hingga pengembangan generasi muda.
Dengan dukungan para tokoh pemuda dan jejaring komunitas, gerakan tersebut diharapkan semakin mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
REALITALIMA tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk saling mengenal, menghargai, dan membangun kebersamaan tanpa memandang agama, suku maupun latar belakang sosial.
Pertemuan di Gedongtengen menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kolaborasi lintas komunitas di Yogyakarta. Semangat yang dibawa adalah pemuda boleh berbeda latar belakang, tetapi tetap satu dalam persaudaraan serta kecintaan terhadap Yogyakarta dan Indonesia.
Penulis : Fajarista
Editor : Arie















