GUNUNGKIDUL – Suasana khidmat menyelimuti Pesantren Al-Muhajirin Patuk, Gunungkidul, Minggu (3/5) pagi. Ratusan jamaah dari berbagai wilayah memadati lokasi untuk mengikuti pengajian rutin Minggu Kliwon yang telah menjadi agenda keagamaan masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut menghadirkan penceramah Ustadz Kompol Amir Machmud, S.I.Kom. Selain dihadiri warga umum, sejumlah unsur Forkompimkap juga tampak hadir secara bergantian, di antaranya Panewu, Danramil, Kapolsek, hingga Kepala KUA.
Pimpinan Utama Pesantren Al-Muhajirin, Ponco Budi Susilo, M.Si, menjelaskan pengajian rutin itu sudah berjalan sekitar tujuh tahun dan terus menunjukkan perkembangan signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pada awalnya jamaah yang datang hanya sekitar 100 orang. Sekarang bisa mencapai 500 sampai 600 orang dari Patuk dan wilayah sekitarnya,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurut Ponco, Pondok Pesantren Al-Muhajirin berdiri sejak 2011 dan saat ini menampung 107 santri yang berasal dari berbagai daerah, seperti Gunungkidul, Yogyakarta, Jakarta, Batam, Kalimantan, Sulawesi, hingga Tangerang.
Ia menambahkan, pengajian tersebut bukan sekadar forum dakwah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi santri. Dalam setiap pelaksanaan, para santri diberi tanggung jawab sebagai petugas acara, pembaca Al-Qur’an, pengelola parkir, hingga petugas infak.
“Kami ingin anak-anak belajar tampil, berani, kreatif, dan peduli kepada masyarakat. Jadi mereka tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga pengalaman sosial,” jelasnya.
Ponco menegaskan pengajian terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun golongan.
“Semua bisa belajar bersama di Al-Muhajirin Patuk. Para santri di pondok ini juga menempuh pendidikan di jenjang SMP, sehingga mereka bisa tumbuh dekat dengan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, dalam tausiahnya, Ustadz Kompol Amir Machmud menyoroti pentingnya menjaga keamanan lingkungan demi terciptanya kehidupan masyarakat yang tenteram dan harmonis.
Ia juga mengingatkan para orang tua agar lebih aktif mengawasi anak-anak, terutama pada malam hari.
“Usahakan anak-anak pukul 22.00 WIB sudah berada di rumah. Pengawasan keluarga sangat penting agar generasi muda terhindar dari pergaulan negatif dan potensi gangguan kamtibmas,” pesannya.
Selain itu, Amir mengajak masyarakat meningkatkan disiplin berlalu lintas guna mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Menurutnya, angka kecelakaan di DIY hingga pertengahan April 2026 masih cukup tinggi. Tercatat Sleman 807 kasus, Bantul 697 kasus, Gunungkidul 289 kasus, Kulonprogo 254 kasus, dan Kota Yogyakarta 219 kasus, sehingga total mencapai 2.264 kejadian.
“Mari bersama menjaga situasi tetap aman, damai, dan kondusif. Tertib berlalu lintas juga bagian dari ibadah karena menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain,” pungkasnya.
Penulis : Fajarista
Editor : Arie















