SLEMAN, Realitalima.com – Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual untuk kembali menjadi manusia yang bermanfaat.
Semangat inilah yang diusung Masjid Suciati Saliman (MSS) dalam menyambut Ramadhan 1447 Hijriah melalui tema besar: “Tumbuh secara Personal, Berdampak secara Sosial.”
Tema tersebut terinspirasi dari filosofi hidup pendiri masjid, Hj. Suciati Saliman, yang dikenal dengan pesan “Urip Iku Urup” — hidup harus menyala dan memberi cahaya kebaikan bagi sekitar. Melalui tagar #MerayakanKemanfaatan, MSS mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan, tidak hanya memperkuat kesalehan pribadi, tetapi juga meningkatkan kepedulian sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Sekadar Ibadah di Atas Sajadah
Sepanjang Ramadhan tahun ini, MSS menghadirkan sejumlah program yang dirancang untuk mendorong jamaah bertumbuh secara spiritual sekaligus sosial.
Program Tadabur Senja menjadi ruang belajar harian menjelang berbuka puasa. Kegiatan ngabuburit ini tidak hanya membahas persoalan ibadah, tetapi juga kesehatan jiwa dan peran muslim dalam menjawab persoalan sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, hadir Tadabur Senja Spesial Keluarga setiap akhir pekan, yang menjadi wadah bagi orang tua dan anak untuk belajar dan bertumbuh bersama dalam suasana hangat dan inspiratif.

Bagi generasi muda, MSS menggelar Supercamp Ramadhan dan Pesantren Anak sebagai sarana menanamkan nilai empati dan kepedulian sejak dini. Sementara pada 10 malam terakhir, jamaah diajak memaksimalkan ibadah melalui program iktikaf, sebagai momen refleksi dan perbaikan diri di penghujung Ramadhan.
Sahur dan Buka Puasa Tanpa Jejak Sampah
Kegiatan sahur dan buka puasa bersama menjadi salah satu momen paling dinantikan di Masjid Suciati Saliman. Selama Ramadhan, MSS menyediakan 9.000 porsi sahur dan 15.000 porsi buka puasa secara gratis bagi jamaah dan musafir.
Hidangan sahur tersedia mulai pukul 03.00 WIB dan terbuka untuk umum. Sementara untuk berbuka, jamaah dapat mengikuti Tadabur Senja pukul 16.45 WIB sebelum menikmati santapan bersama.
Dalam penyediaan menu, MSS mendapat dukungan dari Hato, produk frozen food dari PT Sera Food Indonesia.
Tak hanya fokus pada layanan konsumsi, MSS juga mengusung gerakan “Masjid Peduli Bumi.” Program ini mendorong pengurangan sampah plastik dengan menggunakan perlengkapan makan dan minum permanen, bukan sekali pakai.
“Kami ingin kegiatan sahur dan buka puasa yang dinikmati jamaah di sini dapat menyatukan ukhuwah sekaligus menggugah kepedulian antar sesama dan juga terhadap lingkungan,” ujar M. Nur Affandi, Ketua Takmir MSS.
Ia menambahkan, pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi melalui donasi sahur dan buka puasa. “Ini bisa menjadi cara sederhana agar kemanfaatan dapat dirasakan bersama-sama,” imbuhnya.
Arsitektur Ikonik dan Semangat Inklusif
Berlokasi di Jalan Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta, Masjid Suciati Saliman memiliki arsitektur yang terinspirasi dari Masjid Nabawi, dengan perpaduan gaya Timur Tengah dan Jawa yang khas dan filosofis.
Dengan semangat “Urip Iku Urup,” Masjid Suciati Saliman terus berkomitmen menjadi pusat dakwah yang membumi, inklusif, dan merangkul semua kalangan, menghadirkan Ramadhan yang tak hanya khusyuk secara pribadi, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
Penulis : Fajarista















